Baby blues

Yas!! Setelah melahirkan, ternyata aku mengalami baby blues. Dulu sempet heran masa ada pasien yang bisa stres sama bayi yang super lucu gitu sih? Agak-agak enggak percaya, but its real. Lalu akhirnya aku mengalami masa itu sendiri. Ok then........

Merasa ada yang aneh sama diri sendiri, tapi tidak bisa menjelaskan kenapa? Lalu cerita sama mas bojo "something wrong with me" emosiku benar-benar lebih aneh daripada perempuan menstruasi and i cant handle it. Lebih sensitif iya! Bahkan sangat sensitif, padahal aku bukan tipe orang yang perduli banget dengan omongan orang. Tapi pada saat itu semua hal masuk, gak pake filter. Emosi? Jangan ditanya! Terkadang bisa marah-marah, sedih, nangis wah campur aduk.

Kurang tidur pasti! Namanya habis lahiran badan pasti rasanya enggak enak, sakit jahitan, puting lecet, payudara rasanya penuh sakit. Tapi ada makhluk kecil yang sangat bergantung padaku. Rasanya mau mundur jadi ibu! Iya, itu yang ada didalam kepalaku waktu itu, tapi kan gak mungkin. Lebih parahnya, aku ada dalam satu titik yang enggak mau nyusuin anakku sendiri. Orang bilang nafsu makan busui itu lebih hebat daripada bumil, yang terjadi nafsu makanku berkurang bahkan biasa-biasa saja dan aku merasa indra penciumanku terganggu pada saat itu. Aku ga bisa nyium wanginya bayi, minyak telon yang wanginya enak banget itu aja aku ga bisa cium. Ntahlah! Ditambah dengan lisan-lisan yang rasanya tidak menenangkan. Uh! Rasanya, lelah.

Aku yakin, aku bukan satu-satunya ibu yang mengalami masa tidak nyaman itu sendirian. Pasti ada banyak ibu diluar sana, yang mengalami hal yang sama. Lets speak up ! Baby blues bukan hal yang memalukan untuk diakui. Setiap individu hidup dengan jiwa yang berbeda, kita tidak bisa mengatakan "Wah si A lahiran begini begini si B begini begini" faktanya sekitar 80% wanita mengalami baby blues. Kita tidak bisa menyamakan individu satu dan yang lain dengan keadaan yang sama.

Lucky me, he knew his wife well thanks for your support.

Hampir semua orang begitu bayi lahir hanya terfokus pada bayi, lets change. Perhatikan ibu dari bayi tersebut pula, ibu juga butuh recovery. Berganti peran bukan hal yang mudah. Ada perempuan yang berganti peran menjadi seorang ibu, ada yang berganti peran menjadi ibu dari 2 orang anak, 3 orang dst dst dst. Semua adalah peran baru, dan mempunyai tantangan yang tentu berbeda. Tapi yang lucu justru sesama ibu-ibu bukan saling mendukung malah justru membandingkan dan menyalahkan.

Ada banyak faktor yang menyebabkan wanita mengalami baby blues. Bisa karena masalah ekonomi, suami, mertua, tetangga atau bahkan baby blues sudah dialami sejak masa kehamilan dan justru lebih parah pada masa persalinan sehingga bisa menyebabkan depresi post partum. Karena ada banyak sekali faktor pemicu.

Lalu, bagaimana sih cara mengatasi baby blues itu? Berikan dukungan!! Yas!! Dukungan dari psikososial itu berarti banget. Jangan justru malah menyalahkan sosok ibu atau bahkan mengatainya "tidak multitasking" atau mempertanyakan "siapa yang minta hamil". Wah gila sih! Ibu itu sudah penuh sekali dengan rasa "bersalah" dan "kekhawatiran". Tanpa perlu dipersalahkan dan diresahkan.

At the end. Harapanku semoga tidak ada lagi wanita yang mengalami baby blues. Because for the sake of god! Words work so damn than sword, i tought. Please please please beri dukungan untuk pasangan kalian, menantu kalian, anak kalian, saudara kalian, teman kalian, tetangga kalian, adik kalian, kakak kalian atau siapapun yang kalian kenal. Please help them, support them. Karena berganti peran bukanlah hal yang mudah.

Anak-anak yang bahagia, berasal dari ibu yang bahagia. Right???    Go help!😉

Komentar